Women Wired Weekend

sponsored


 Anda lajang, memiliki pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar darinya? Ini awal yang baik untuk memulai kehidupan mandiri, termasuk secara finansial. Namun, jika pada kondisi ini Anda masih bergantung secara finansial dari keluarga, terutama orangtua, ini petanda buruk yang seharusnya menjadi peringatan bagi Anda. Ada yang salah dalam pengelolaan keuangan Anda. Jadi, segera temukan penyebabnya termasuk solusi untuk mengakhiri masalah tersebut.

Nurfitriavi Nuriman, CFP, independent financial planner dari QM Financial mengatakan banyak perempuan muda, lajang dan berpenghasilan besar namun masih menerima "subsidi" dari orangtua. "Gaji Rp 4 juta tinggal di apartemen mewah, tapi bensin dan tol masih dibayarkan orangtua. Banyak lajang yang salah kaprah seperti ini, tinggal di apartemen mahal untuk bergaya, sekadar menunjukkan status bahkan dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan pasangan se-levelnya, tapi masih mengandalkan orangtua secara finansial," jelas Fitri (sapaan akrabnya) kepada Kompas Female di sela kegiatan Women Wired Weekend di Jakarta belum lama ini.

Menurut Fitri, kalangan lajang yang baru memasuki dunia kerja ini perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai cara mengelola uang dari penghasilannya. "Single dan bekerja, nggak keren kalau minta uang dari orangtua," ungkap Fitri yang ingin menyasar lebih banyak kalangan muda dalam memberikan edukasi finansial. "Kalangan singleinilah yang harus diperbaiki kondisi keuangannya, karena bibitnya berawal dari masa ini," jelasnya.

Dampak
Jika perilaku finansial yang buruk ini dibiarkan, si lajang tumbuh sebagai pribadi yang tidak independen. Hal ini berdampak besar bagi dirinya dan orang lain, termasuk terhadap pasangan dan masa depannya dalam berkeluarga nantinya. Fitri menyebutnya sejumlah dampak buruk dari perilaku ini bagi si lajang:

* Tidak bisa mengajarkan perilaku independen yang baik kepada anak-anaknya kelak. Bagaimana bisa menularkan independensi kepada orang lain jika dirinya sendiri masih bergantung pada orang lain.
* Tidak mengetahui berapa sebenarnya kebutuhan dan pengeluarannya.  Karena jika kesulitan secara finansial, ia hanya meminta kepada orangtuanya atau orang lain yang biasa memberikan "subsidi".
* Mengalami kesulitan saat berkeluarga. Ketika menikah dan berkeluarga, kebiasaan buruk individu saat lajang dalam mengelola uang akan terbawa saat mengatur keuangan keluarga. Si lajang yang tidak independen secara finansial akan menemui kesulitan ketika harus mengelola keuangan keluarga bersama pasangan. "Bahkan tak sedikit orang yang ketika menikah, masih meminta uang kepada orangtua. Ini karena kebiasaan seperti ini terbangun sejak masih lajang," jelas Fitri.

Menurutnya, pemahaman mengenai mengelola uang yang baik perlu dimulai sedini mungkin. Untuk si lajang yang berpenghasilan, Fitri menyarankan sebaiknya perencanaan keuangan dimulai sejak usia 23. Namun idealnya perencanaan keuangan sudah diajarkan kepada anak-anak usia sekolah, dengan memasukkan perencanaan keuangan sebagai kurikulum di sekolah. "Di Australia perencanaan keuangan adalah kurikulum wajib di sekolah. Anak-anak dapat mulai belajar mengelola uang jajannya," tandas Fitri.

0 komentar:

Post a Comment